Pondok Pesantren Islam Nurussalam adalah sebuah institusi pendidikan Islam yang memiliki sistem pendidikan dan pengajaran yang menggabungkan unsur tradisional pesantren dengan pendidikan madrasah yang saat ini berkembang. Sejak awal berdirinya, para pendiri pesantren telah menekankan bahwa Pondok Pesantren Nurussalam adalah milik umat Islam secara keseluruhan. Hal ini didasarkan pada partisipasi aktif umat Islam dalam pembangunan dan perkembangan pesantren ini sejak awal pendiriannya hingga saat ini.
Pondok Pesantren Islam Nurussalam berdiri secara independen dan tidak terafiliasi dengan organisasi, partai, kelompok, atau sekte tertentu. Ia berdiri sebagai entitas netral di tengah masyarakat dan tidak memihak pada golongan atau organisasi tertentu. Pendekatan pendidikan di pesantren ini didasarkan pada pemahaman yang komprehensif dan integratif terhadap Al-Qur’an dan Sunnah Sohihah yang bersifat universal. Dengan pandangan ini, diharapkan para alumni Pondok Pesantren Nurussalam dapat menjadi individu yang kritis dan bijak, tidak mudah terjerumus dalam fanatisme golongan, dan tidak hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa pertimbangan yang tepat.
Pondok Pesantren Nurussalam Cintaharja Kujang Cikoneng Ciamis Jawa Barat didirikan atas cita-cita dua orang santri, Ust Abdul Hadi (Alm) dan Ust Wahyudin, yang pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. Setelah menyelesaikan pendidikan mereka di sana, mereka memutuskan untuk mengembangkan pendidikan Islam di kampung halaman mereka. Mereka percaya bahwa lembaga pendidikan adalah alat yang sangat efektif dalam mendidik dan membentuk karakter generasi muda.
Pada tanggal 01 Juli 1988, tim pendiri Pondok Pesantren Nurussalam berkumpul, terdiri dari Ust Abdul Hadi BA (Alm), Bpk Abdul Majid, Bpk Kurnia Abas, Bpk Idris Sudiaman, Bpk Dayat, Bpk Maman Rohman, Bpk Ahmad, dan Bpk Anwar, yang juga mendapat dukungan dari Abah Sukarmi. Mereka berkumpul di rumah Bpk Idris Sudiaman dan memutuskan untuk mendirikan Pondok Pesantren Nurussalam dengan semangat mujahadah (kesungguhan) dan ikhlas (keikhlasan). Saat itu, pondok pesantren ini tidak memiliki gedung sekolah, asrama, atau masjid, hanya memiliki sebidang tanah wakaf yang terbatas. Santri sementara waktu dititipkan di rumah Bapak H. Parno.
Meskipun awalnya banyak santri yang berminat untuk bergabung, sebagian dari mereka memutuskan untuk pulang setelah melihat kondisi bangunan yang sangat sederhana. Hanya beberapa santri yang tetap bersikeras untuk mencari ilmu tanpa memedulikan kondisi bangunan. Pesantren Nurussalam mulai melakukan kegiatan pembinaan dan pengajaran di Madrasah Al-Mansuriyah di Cintaharja dan Raudhotul Athfal di Dusun Kujang Sari. Para tokoh masyarakat setempat juga turut berperan besar dalam mendukung pendirian pesantren ini dengan penuh ikhlas.
Dengan keterbatasan dan modal yang minim dari berbagai sektor, pengelola pesantren terus berusaha mengembangkan pendidikan Islam ini dari tahun ke tahun. Maka, pada tahun 1991, didirikanlah Yayasan Nurussalam melalui akta notaris pada tanggal 20 April 1991 dengan nomor 21.
Kesulitan dalam memiliki gedung sendiri sangat dirasakan, namun dengan pertolongan Allah Ta’ala dan dukungan dari donatur seperti H. Idris dan H. Obay Zainal Abidin serta donatur lainnya, Pesantren Nurussalam berhasil membangun tiga lokal asrama yang berfungsi sebagai tempat tidur, belajar, dan tempat ibadah lima waktu. Lokasinya terletak di Guling Samil, Dusun Cintaharja, Desa Kujang, Kecamatan Cikoneng, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Para pembina dan pengasuh generasi awal pesantren ini meliputi Ust. Abdul Hadi BA (Alm), Ust. Rahmat Az-Zuhri, Ust. Badruddin, Ust. Iin Solihin, Ust. Mahali Abdul Jalal, Ust. Ma’sum Abdurrahman, Ust. Agus Cahyono, dan Ust. Saefuddin (Alm).
Segera Dibuka Pendaftaran Santri Baru Ponpes Nurussalam Cikoneng T.A 2025/2026